Kamis, 06 Oktober 2011

AKU DAN SYETAN 2

Akhirnya aku bisa mengalahkan syeitan
Yang mencoba kembali menghadangku di jalan
Akupun bisa meneruskan perjalanan
Untuk bertemu dengan Tuhan
Mengalahkan rasa dingin yang menyelimuti badan
Mengurapi wajah dengan air kesejukan
Kawan
Kini aku tahu car menghalau syetan
Yaitu dengan terus memperteguh iman
Coba saja kalian buktikan
Maka insya Allah hanya ketaqwaan
Yang akan kalian dapatkan
Karena aku sudah merasakan
Dan hidupku selalu dikelilingi kebahagiaan
Terimakasih Tuhan
Atas segala nikmat yang terus Engkau berikan
Membuatku tak henti-hentinya melontarkan pujian
Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahu Allahu akbar
Engkaulah Tuhan sekalian alam
Pemilik segala yang manusia butuhkan
Termasuk nyawa yang melekat di badan
Hanya kepada Engkaulah Tuhan
Kami tunduk dalam pengabdian

(Puisi ada;ah kebebasan jiwa mengungkap semua yng dirasa)
Sparrstrasse 2, menjelang fajar yang dingin, 21.11.10

AKU DAN SYETAN 1

Aku telah dikalahkan oleh syaithan malam ini
Yang menyaru dalam rupa rasa
Rasa dingin yang menggerus ke tulang-tulang
Membelenggu tubuhku dalam lelap di balik selimut tebal
Menuntun tanganku untuk mematikan alarm
Dan menindih mataku hingga terus terpejam
Hatiku terus meronta penuh luka
Tak rela jika pertemuan ini tertunda
Tetapi syaitan itu begitu kuat membelenggu rasa
Hatiku tersayat-sayat
Syaithanpun terus bergerak merapat
Mengikis keimanan dengan cara yang tepat
Dingiiiin.... badanku menggigil
Syaithan tertawa renyah
Meninggalkanku saat jam subuh sudah tiba
Entah strategi apa yang tengah disusunnya
Mengapa dia masih membiarkanku menyapa subuh?
Seandainya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertemu esok malam
Aku pastikan tak akan ada syaitan yang berani menghadangku di jalan

(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Sparrstrasse 2, ba’da subuh. 19.11.10

SANG PEMBUNUH KEJI

Siapa gerangan itu sang pembunuh keji?
Yang mengaku pengikut Muhammad sang Nabi
Dan percaya pada Tuhan sang Ilahi
Tetapi kelakuannya seperti iblis banci
Yang tak punya hati nurani
Yang mengikuti nafsu hewani
Dipenuhi kesumat mati
Hingga tak lagi memiliki sisi manusiawi

Katakan pada sang pembunuh keji
Tuhan tak butuh sanjungan basa-basi
Apalagi coba-coba menjadi wakilNya di muka bumi
Dengan main hakim sendiri
Sambil mengibarkan panji-panji

Katanya paham kitab suci
tetapi mengapa tega mengkhianati
Katanya mengikuti ajaran Nabi
tetapi mengapa tega menyakiti
Katanya Islam sejati
tetapi mengapa tega menodai

Katakan pada sang pembunuh keji
Muhammad Rasulullah sudah ada yang melindungi
Beliau tak butuh pengikut yang tak berhati nurani
Apalagi yang suka meminum darah saudara sendiri


Katakan pada sang pembunuh keji
Tuhan benci pada hanyaNya yang berbuat keji
Katakan pada sang pembunuh keji
Nabi mengutuk pengikutnya yang berbuat keji
Katakan pada sang pembunuh keji
Islam tak pernah menganjurkan orang untuk berbuat keji

Katakan..... katakan sekali lagi
Pada semua orang yang telah melakukan perbuatan keji
Buatlah agama sendiri.....
KEHILANGAN MEREKA, SEDIKITPUN ISLAM TAK AKAN MERUGI
Jangan pernah mengaku-aku sebagai Islam sejati
Apalagi sampai menggunakan ayat-ayat suci
Dan hadits-hadits Nabi
Untuk membenarkan dan membela diri

Katakan.... katakan sekali lagi
Aku, kamu, kalian dan kita semua sangat benci
Pada perbuatan keji
Dan pada sang pembunuh keji
Keji!!!!!!!
Keji!!!!!!!
Aku benci pada perbuatan keji!!!!!!
Aku benci pada sang pembunuh keji!!!!!
Pergi kau dari muka bumi
Dari bumi pertiwi
Buatlah agamamu sendiri
Buatlah negaramu sendiri
Jangan berlaku sok suci
Dan merasa paling benar sendiri
Jangan sekali-kali kamu berani
Mendustai agamamu sendiri
Tuhan tak akan pernah mengampuni
Manusia-manusia yang sukanya mendzolimi
Ingat itu wahai pembunuh keji!!!!!!

SUPER MOON DI LANGIT JAKARTA

bulan menggantung di luas cakrawala
warna emasnya berkilau tebarkan cahaya
sang purnama menatap bumi penuh mesra
sang bumi menyambutnya dengan tawa ceria


purnama merekah begitu indah
diiringi nyanyian merdu ribuan bocah
yang berlari dan bermain tanpa kenal lelah
untuk menciptakan sebuah sejarah


bulan terus tersenyum genit
menyaksikan tingkah mereka yang begitu gesit
berlari di antara gang-gang sempit
yang kanan kirinya di kelilingi parit


sang bulan terus menerbankan pesona
membuat ribuan mata menjadi terpana
takjub melihat keindahan yang begitu langka
hasil kreasi dari sang Maha Pencipta

(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Sparrstr.2 19.03.11 Berlin, 13353

10 APRIL 1997 - 10 APRIL 2011

Kau adalah warna
Diciptakan untuk melengkapi panoramaku
Bersama kita ciptakan warna-warna lain
Berbaur, menjadi sebuah pelangi

Kau adalah karma
Jelmaan dari karma para raja
Bersama kita ciptakan karma-karma baru
Yang kelak akan melahirkan karma-karma lain

Kau adalah takdir
Yang sudah tertulis di lauful mahfudz
Kepadaku Tuhan mengirimmu
Dan hanya untukku Tuhan menciptakanmu

Kau adalah mimpi
Yang bertahun-tahun menghantui malamku
Dan pada suatu hari menjelma rupa
Lalu merubah mimpiku menjadi kisah nyata

Kau adalah harapan
Yang mampu membangkitkan hasrat
Untuk menerima takdir
untuk menjalani karma
untuk membangun mimpi
dan untuk menciptakan pelangi

Dan pada akhirnya
kau adalah aku
aku adalah kau
melebur menjadi satu
bersama mengisi ruang dan waktu
menempati satu bilik kosong hidup kita
menghiasinya dengan pelangi, mimpi dan harapan

Dan akan terus begitu
Selamanya
Kau dan aku
Bersama dua makhluk
Hasil persemaian cinta kita


(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Satu jam menjelang 10 April 2011, Sparrstr.2 Berlin 13353
Memperingati 14 tahun kebersamaan kita plus 4 tahun perkenalan kita

RINDU EMBUN

RINDU

ada sesuatu
yang ingin dituju
suasana hati jadi tak menentu
beku
kelu
biru
sendu
kelabu
menyatu
jadi satu
menimbulkan rasa haru
tanda tanya dan tanda seru
dan juga jeritan-jeritan pilu
berkecipak-kecipuk di ruang kalbu
menciptakan keinginan untuk bertemu

EMBUN

luruh menyepuh
dedaunan dan rumput liar
basah mendesah
di beningnya kaca-kaca
lalu perlahan membias
oleh cahaya surya yang mulai retas

senyap menyenyap
di dinginnya pagi
menyatu dengan kabut
tampak begitu lembut
sukmaku ikut larut
menghayati setiap detik dari waktu
untuk menyambut datangnya hari baru

Sparrstr.2 Berlin, 19.05.11

KATA-KATA

aku tak terbiasa
hidup tanpa kata-kata
kata-kata bagaikan nafas dalam hidupku
kata-kata bagaikan asupan gizi untuk pertumbuhanku
kata-kata bagaikan belahan jiwa yang menemani hari-hariku
kata-kata bagikan mantera yang mampu menyirep kesedihanku

kata-kata telah membuat hidupku jadi bahagia
kata-kata telah membuat hidupku jadi penuh warna
kata-kata telah membuat hidupku jadi lebih bermakna
kata-kata telah membuat hidupku jadi lebih berharga
kata-kata telah membuat mulutku bisa bicara
kata-kata telah membuat duniaku bisa tertawa
kata-kata telah membuatku bisa merasakan cinta
kata-kata telah membuatku bisa menyalurkan semua rasa
kata-kata telah membuatku bisa menangisi segala dosa

kata-kata telah menyulutkan semangatku untuk meraih cita-cita
kata-kata telah mengobarkan semangatku untuk terus berkarya
kata-kata telah mengarahkanku untuk berkata tidak atau iya
kata-kata telah mengajariku untuk memahami sesuatu dengan bijaksana

kata-kata bukan sekedar hasil dari kegiatan berbicara
tetapi kata-kata telah menghubungkan manusia dengan Tuhannya
dan kata-kata telah menghubungkan manusia dengan sesamanya
dan dengan kata-kata pula dunia menemukan kehidupannya

jangan pisahkan aku dengan kata-kata
karena tanpa kata-kata hidupku akan terasa hampa
tanpa kata-kata aku bagaikan si buta
tanpa tongkat sebagai penuntun jalan
tanpa kata-kata aku bagaikan si pengembara
tanpa air untuk membasuh dahaga
tanpa kata-kata aku bagaikan anak sungai
tanpa air yang mengalir ke hulu
tanpa kata-kata aku bagaikan padang sahara
tanpa mata air tempat para khalifah melepas lelah

ya Tuhan, pemilik segala kata-kata
yang berkuasa untuk menciptakan semua kata-kata
limpahi aku dengan sedikit kata-kataMU ya Tuhan
agar aku bisa mensyukuri segala karuniaMu
dengan kata-kata indah seindah wujudMu

(Puisi adalah kebebasan jiwa untuk mengungkap semua yang dirasa)
Sparrstraß2 2. Berlin, 30.05.11, pkl. 20.57